RSS

Efektifitas Organisasi

26 Apr

BAB I   PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Suatu efektifitas diperlukan dalam berbagai aktifitas atau kegiatan, termasuk dalam kegiatan berorganisasi. Saat ini efektifitas organisasi menjadi masalah penting dalam kesehariaanya. Topik ini tidak akan menghilang dari bahasan manajemen serta ilmu organisasi.
Efektifitas organisasi ini dapat dilihat dari berbagai segi dan sudut pandang, baik dilihat dari teori maupun yang lain. Namun, di kalangan para ahli masih terdapat perbedaan pengertian mengenai konsep efektifitas organisasi itu sendiri dan alat ukurnya.
Menurut Cameron dan Whetten (1983), konsep efektifitas organisasional secara teoritik terletak pada pusat semua model organisasional. Konsep ini tertamam dalam bahasa akademik maupun manajerial. Kemudian, efektifitas secara empiris berfungsi sebagai variabel penting dalam kegiatan riset dan konsep penting dalam penafsiran fenomena organisasional.

B. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan kami bahas pada kesempatan ini antara lain dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud efektifitas organsiasi?
2. Ada berapa macam model efektifitas organisasi?
3. Kapan suatu organisasi dapat dikatakan efektif? Apa ciri-cirinya?
4. Apa saja komponen-komponen efektifitas?

 

BAB II   PEMBAHASAN

A. Pengertian Efektifitas Organisasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), kata efektif dapat diartikan dapat membawa hasil atau berhasil guna. Sedangkan organisasi merupakan kesatuan (susunan) yang terdiri atas bagian-bagian (orang) untuk tujuan tertentu atau bias disebut juga kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.
Pengertian lain dari kata efektifitas adalah suatu tingkat prestasi organisasi dalam mencapai tujuannya artinya kesejahteraan tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai.
Efektif berbeda dengan efisien. Efektif merupakan achievement of goals sedangkan efisien adalah the ratio of effective output the input required to achieve it.
THREE WAYS TO THINK ABOUT EFFECTIVENESS
1. Goal approach to effectiveness
Perspective on effectiveness that emphasizes the central role of goal achievement as a criterion for assessing effectiveness
2. System Theory approach to effectiveness
A grouping of elements that individually establish relationship with each other and that interact with their environment both as individuals and as a collective
3. Multiple constituency approach to effectiveness
Perspective that emphasizes the relative importance of different groups and individuals interests in an organization (Gibson)

B. Model-model Efektifitas
Efektifitas organisasi memiliki beberapa model yang umumnya ada. Berikut akan diuraikan tujuh model di antaranya:

1. Model Tujuan (Goal Model)
Suatu organisasi diciptakan secara sengaja adalah untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Oleh karena itu, model tujuan merupakan model yang banyak digunakan sebagai kriteria efektifitas. Beberapa teoritis berpendapat bahwa model tujuan merupakan model universal (Bluedorn, 1980; Campbell, 1977; Price, 1972; Scott, 1977).
Pada dasarnya, model tujuan menyatakan bahwa efektifitas organisasi harus dinilai dalam bentuk pencapaian hasil akhir bukan cara atau prosesnya. Kegunaannya terbatas karena ketergantungannya pada tujuan yang dapat diukur dan terikat pada batas waktu.

2. Model Sumber Daya Sistem (System Resource Model)
Model sumber daya sistem berkembang dari model sistem organisasi. Model ini menekankan pandangan tentang organisasi sebagai struktur sosial yang dapat diidentifikasi dan saling ketergantungan antara organisasi dan lingkungannya. Secara ringkas, model ini menekankan akuisisi sumber daya yang dibutuhkan sebagai kriteria penilaian efektifitas.
Model sumber daya sistem lebih cocok bila ada hubungan yang jelas antara akuisisi sumber daya dan keluaran organisasional.

3. Multiple Constituency Models
Model multiple constituency mengembangkan kriteria penilaian efektifitas organisasi atas dasar berbagai preferensi stakeholders yang berbeda terhadap kinerja organisasi. Ada 4 model Multiple Constituency yaitu:
a. Model relatifistik; memandang efektifitas bukan sebagai pernyataan tunggal tentang organisasi, tetapi sebagai seperangkat pernyataan, masing-masing mencerminkan kriteria penilaian setiap pihak yang terlibat dengan derajat yang berbeda-beda dalam organisasi.
b. Perspektif kekuasaan, yang dikembangkan atas dasar resource dependence model; organisasi efektif adalah yang dapat memuaskan permintaan para anggota koalisi dominan dan opaling kuasa sebagai upaya untuk menjamin dukungan mereka yang berkelanjutan agar kelangsungan hidup organisasi terjamin.
c. Perspektif keadilan sosial (social justice); the least advantaged person harus diistimewakan sebagai sumber standr dengan mana efektifitas organisasi dinilai. Organisasi disebut efektif apabila mampu menghilangkan kekecewaan anggota terhadap konsekuensi nyata yang mereka alami akibat partisipasi mereka dalam organisasi.
d. Evolutionary perspective; memandang penilaian efektifitas organisasional sebagai suatu proses seleksi dalam evolusi masyarakat. Jadi, kinerja efektif merupakan cerminan kemampuan adaptasi organisasi dalam menghadapi berbagai kendala lingkungan.
Empat model di atas pada dasarnya menempatkan pemenuhan kepuasan berbagai pihak yang terkait dengan organisasi sebagai prioritas utama. Model-model ini tepat bila pihak yang berkepentingan mempunyai pengaruh kuat pada apa yang dilakukan organisasi atau bila kegiatan organisasi sebagian besar hanya reaktif terhadap permintaan strategik mereka.

4. The Competing Values Model
Model ini didasarkan pada anggapan bahwa individu-individu menilai efektifitas organisasional dengan membuat trade offs antar tiga dimensi nilai umum, yaitu fokus organisasional, struktur organisasional, dan hubungan prasarana dan hasil akhir organisasional. Jadi, model ini menekankan pada trade offs di antara berbagai kriteria dan perubahan yang terjadi dalam profil-profil organisasi.

5. Model Proses Internal
Model proses internal didasarkan pada suatu rangkaian prinsip-prinsip normatif yang mengarahkan cara organisasi seharusnya berfungsi untuk mendorong pertumbuhan dan pengembangan manusia agar daapat mencapai potensi maksimum.

6. Model Legitimasi
Perspektif ini beranggapan bahwa melakukan kerja yang benar jauh lebih penting dibanding melakukan kerja secara benar. Model ini cocok untuk analisis efektifitas di tingkat makro, yaitu dalam penentuan organisasi mana yang selamat, menurun, atau mati.

7. Model Ketidakefektifan
Model ketidakefektifan (ineffectiveness) memusatkan pada faktor-faktor yang menghambat sukses kinerja organisasi, bukan faktor-faktor yang menyumbang keberhasilan. Suatu organisasi dinilai mencapai efektifitas tinggi bila bebas dari berbagai karakteristik ketidakefektifan.
Keuntungan dasar model ini adalah memberikan kepada para manajer pedoman-pedoman praktis bagi kegiatan diagnosis dan pengembangan. Model ketidakefektifan paling cocok bila kriteria efektifitas tidak dapat diidentifikasi atau tidak dapat disetujui bersama, dan bila ada kebutuhan untuk mengembangkan secara sistemik strategi-strategi pengembangan organisasi.

Dari ketujuh model yang telah diuraikan di atas, masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. Berikut ini akan disampaikan ringkasan dari uraian di atas:

Model Definisi

Sebuah organisasi adalah efektif bila ……………

Kapan Berguna

Model paling terap bila ……………

Model Tujuan mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tujuan-tujuan jelas, konseptual, berjangka waktu, dan dapat diukur
Model Sumber Daya Sistem mampu memperoleh sumber daya yang dibutuhkan ada kaitan jelas antara masukan dan kinerja
Model Proses Internal tidak mempunyai hambatan internal dan fungsi-fungsi internal berjalan lancar ada kaitan jelas antara berbagai proses organisasional dan kinerja
Multiple Constituency Model semua pihak terkait terpuaskan paling tidak secara minimal pihak-pihak terkait mempunyai pengaruh kuat terhadap organisasi, dan harus dipenuhi permintaannya
Competing Values Model memenuhi preferensi pihak-pihak terkait dalam hal empat kuadran yang berbeda organisasi tidak jelas tentang kriterianya sendiri, atau kriteria berubah setiap waktu
Model Legitimasi kelangsungan hidupnya terjamin sebagai hasil pelaksanaan kegiatan legitimate kelangsungan hidup atau penurunan dan kematian organisasi adalah penting
Model Ketidakefektifan tidak mempunyai kelemahan-kelemahan atau sifat-sifat sumber ketidakefektifan kriteria efektifitas tidak jelas, atau berbagai strategi perbaikan diperlukan

 

C. Ciri-ciri Organisasi Efektif

1. Efektifitas Organisasi : The Chinese Way
Dalam konsep budaya China ada lima (5) elemen kehidupan, yaitu Tanah, Air, Api, Logam, dan Kayu. Kehidupan seseorang dikaitkan dengan bulan dan tahun kelahirannya, dan kehidupan dunianya dikaitkan dengan 5 elemen ini, atau biasa disebut Feng Shui. Elemen ini dianggap sebagai energi yang selalu dalam keadaaan labil saling mempengaruhi satu sama lain untuk mencapai Keseimbangan antar elemen sehingga manusia bisa berprestasi maksimal, hidup senang, dsb.
Kelima elemen ini tidak hanya berarti besi, kayu, air, api dan tanah, tetapi juga berarti Gerakan, Perubahan, Pertumbuhan, Kehancuran, dan selalu berubah setiap saat. Sehingga konsep KESEIMBANGAN antara kelima elemen tadi menjadi sangat penting dalam budaya China. Karena dalam keadaan seimbang seperti ini maka pertumbuhan, stabilitas dan gerakan manusia akan menjadi lebih positif dan bergerak maju.
Dalam dunia organisasi maka hukum keseimbangan lima elemen ini tetap berlaku. Judul elemen sekarang menjadi berubah sebagai berikut:
a. Api melambangkan Leadership, yang memberikan wawasan dan tujuan kemana organisasi bergerak, yang memberikan kobaran energi pada organisasi untuk tumbuh
b. Tanah melambangkan Budaya Organisasi, Nilai dasar dan keyakinan dasar organisasi, budaya kerja organisasi, sikap dan perilaku staff dalam organisasi,
c. Logam melambangkan karyawan, yang inovatif, kreatif dan secara strategis menggerakkkan roda organisasi kedepan,
d. Air melambangkan Kinerja Organisasi, bagaimana hasil organisasi diukur dan dibandingkan dengan perusahaan lain sejenis, kualitas layanan organisasi, kinerja keuangan secara keseluruhan,
e. Kayu melambangkan Kompetensi Organisasi, bagaimana pengembangan dan pertumbuhan organissai, inovasi dan kreatifitas yang tumbuh.
Berdasar atas lima hal di atas bias diukur seberapa besar efektifitas organisasi, yang mempunyai keseimbangan dari kelima elemen di atas. Secara teoritis kita bisa membuat 4 variabel untuk mengukur setiap elemen di atas sehingga terdapat 20 variabel pengukuran efektifitas organisasi. Kalau setiap variabel diukur dengan nilai antara 1 s/d 10 akan terdapat Konsep Efektifitas Organisasi dengan skala nilai 20 s/d 200 di mana 200 adalah nilai tertinggi. Yang penting adalah KESEIMBANGAN bukan maksimal nilainya.

2. Penilaian Model Efektifitas
Pedoman bagi penilaian model-model efektifitas (yang telah diuraikan sebelumnya) dibahas dalam tujuh pertanyaan kritis. Pertanyaan-pertanyaan ini untuk dijawab secara eksplisit oleh evaluator sebelum semua aspek penilaian efektifitas dilakukan.
a. Dari perspektif siapa efektifitas dinilai?
b. Pada domain kegiatan apa penilaian dipusatkan?
c. Apa tingkat analisis yang digunakan?
d. Apa tujuan penilaian efektifitas?
e. Apa kerangka waktu yang diterapkan?
f. Apa jenis data yang digunakan untuk penilaian?
g. Apa bandingan denagn mana efektifitas dinilai?
Jawaban-jawaban yang berbeda terhadap berbagai pertanyaan tersebut akan menentukan efektifitas yang diterapkan. Tantangannya terletak pada penentuan berbagai jawaban yang tepat untuk kondisi tertentu.

D. KOMPONEN-KOMPONEN EFEKTIFITAS ORGANISASI
Efektifitas organisasi memiliki tiga komponen, yaitu:
1. Efektifitas Individu (Individual Effectiveness)
Seberapa jauh tiap individu yang ada di organisasi mempengaruhi efektifitas organisasi secara keseluruhan, terdiri dari: (a) Ability, (b) Skill, (c) Knowledge, (d) Attitude, (e) Motivation, (f) Stress
2. Efektifitas Kelompok (Groups Effectiveness)
Efektifitas organisasi dipengaruhi oleh kelompok-kelompok yang ada di organisasi yang bersangkutan, yaitu oleh: (a) Cohesiveness, (b)Leadership, (c) Structure, (d) Status, (e) Roles, (f) Norms
3. Efektifitas Organisasi (Organizational Effectiveness)
Efektifitas organisasi ditentukan oleh organisasi secara umum, meliputi sebagai berikut: (a) Environment, (b) Technology, (c) Strategic choices, (d) Structure, (e) Processes, (f) Culture

BAB III   PENUTUP

Dari uraian-uraian yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa efektifitas organisasi merupakan suatu tingkat prestasi organisasi dalam mencapai tujuannya dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada secara tepat guna.
Efektifitas organisasi ini memiliki beberapa model, di antaranya adalah model tujuan (goal model), model sumber daya sistem (system resource model), multiple constituency models, the competing values model, model proses internal, model legitimasi, model ketidakefektifan. Dari model-model tersebut terdapat kelebihan dan kekurangan masing-masing yang harus dicermati oleh para pelaku organisasi.
Selanjutnya efektifitas organisasi mempunyai tiga komponen utama, yaitu efektifitas individu, efektifitas kelompok, dan efektifitas organisasi.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 26 April 2009 in Organisasi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: