RSS

Etika sebagai Ilmu Pengetahuan tentang Kesusilaan

01 Des

Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengantar ke alam etika. Pertanyaan pertama yang muncul ialah “Apa itu etika?”. Untuk menjawab pertanyaan ini kita tidak akan mengawali dari pembicaraan mengenai sejarah kata serta pengertian etika. Tetapi sekedar menetapkan, seperti yang telah kita peroleh dari orang-orang Yunani. Dan yang penting saat ini ialah mempertanyakan hal apakah yang ditunjuk oleh kata tersebut.

Rumusan singkat dari kata etika ialah ilmu pengetahuan tentang kesusilaan (moral). Rumusan ini memang sangat singkat, namun belum jelas. Ada dua pertanyaan yang ditimbulkan “Apakah ilmu pengetahuan itu, dan apakah kesusilaan itu?”. Dua pertanyaan ini harus kita jawab lebih dulu sebelum kita dapat memahami apakah yang terkandung dalam pernyataan bahwa etika ialah ilmu pengetahuan tentang kesusilaan. Namun demikian, pertanyaan tersebut hanya akan kita jawab secara ringkas.

 

Ilmu Pengetahuan

Mengenai ilmu pengetahuan dapat digambarkan sebagai berikut: Seorang penyelidik ilmiah hendak mengetahui kebenaran tentang sebagian kenyataan. Misalnya, ia hendak mengetahui bagaimanakah kenyataan tadi dan mengapa demikian keadaanya. Jadi, tujuan yang hendak dicapainya ialah pengetahuan yang benar. Untuk mencapai tujuan itu, ia memulai secara cermat, mengamati gejala-gejala yang diselidikinya dan bila perlu menguraikannya ke bagian-bagian yang lebih terperinci. Dan dengan demikian, ia memisah-misahkan berbagai aspek, faktor, unsur, komponen, dan sebagainya. Bila yang hendak diketahuinya adalah adat kebiasaan suatu suku bangsa asing, maka secara berturut-turut diselidikinya kebiasaan-kebiasaan suku bangsa yang bersangkutan dengan masalah pangannya, perumahan, berburu, perkawinan, keagamaan, dan sebagainya.

Setelah melakukan observasi serta analisa, ia melakukan deskripsi dengan dicantumkan hasil pengamatan yang telah dilakukan. Maka dengan sendirinya muncul berbagai masalah yang harus diselesaikan (bahan-bahan tersebut menimbulkan pertanyaan yang harus dijawab oleh penyelidik). Misalnya, suku bangsa yang diselidiki memiliki kebiasaan perkawinan yang sangat menyimpang dari kebiasaa suku-suku bangsa yang berdekatan. Pertanyaan yang timbul ialah “Mengapa demikian?”. Atau  yang diselidiki ialah sebuah suku bangsa pemenggal kepala, masalah yang menghendaki pemecahan ialah “Mengapa suku bangsa tersebut melakukannya?”.

Manakala pertanyaan-pertanyaan tersebut telah dijawab dengan memuaskan, maka gejala yang diselidikinya telah memperoleh penjelasan. Penjelasan itu dikatakan memuaskan bila mempunyai dasar pembenaran, dan dikatakan mempunyai dasar pembenaran jika ditopang oleh alasan-alasan yang masuk akal. Ini berarti di satu pihak penjelasan tersebut harus didasarkan fakta-fakta yang diamati dan di lain pihak kesimpulan-kesimpulannya diambil melalui penalaran logik. Misalnya, dapat diajukan alasan-alasan yang baik untuk mengaitkan pemenggalan kepala dengan sejumlah citra keagamaan ini, maka menilik sifat-sifat yang dipunyai manusia, segera dapat dibayangkan atau masuk akal, suku tersebut sampai melakukan pemenggalan kepala. Penjelasan yang demikian ini dapat bersifat tersusun – dalam hal semacam ini kita berbicara mengenai suatu teori.

Kiranya jelas, berbagai pernyataan yang menyusun teori tersebut harus saling berhubungan, atau dengan kata lain, harus merupakan suatu system. Ilmu pengetahuan senantiasa merupakan suatu proses sistematik, bahkan sesungguhnya juga dalam penyelidikan serta deskripsinya. Hendanya diingat pula, sebuah terori selalu dimaksudkan untuk memberikan penjelasan mengenai fakta-fakta secara sebagaimana telah disebutkan di atas.

Sementara itu, harus diperhatikan pula, bahwa gejala-gejala yang sangat berbeda, menghendaki cara-cara penyelidikan yang sangat berbeda pula. Sebuah bintik kabut diamati secara berbeda disbanding laju suatu bagian yang bermuatan listrik, adat kebiasaan sebuah suku bangsa diamati secara berbeda disbanding perilaku seekor sarcophaginae, dan sebagainya. Ini sekaligus menuntut deskripsi dan cara menjelaskannya, juga berbeda. Dengan kata lain, setiap ilmu pengetahuan mempunyai metodenya sendiri-sendiri. Kata ini merupakan hasil penjabaran kata Yunani “hodos” yang berarti jalan. Istilah ini mengacu pada jalan yang harus dilalui untuk sampai pada objek tertentu.

 

Kesusilaan

Yang dinamakan kesusilaan ialah keseluruhan aturan, kaidah atau hukum yang mengambil bentuk amar dan larangan. Baik hukum sepuluh amar, maupun kitab hukum Hammurabi, serangkaian ajaran kesusilaan yang berasal dari Jaman Kuno, ajaran moral yang diberikan kepada anak, senantiasa mengatakan berbuatlah begini atau seharsnyalah berbuat begini atau hendalkah berbuat begini dan tidak berbuat begitu atau singkirkanlah hal itu. Dengan kata lain kesusilaan menanamkan wajib dan darma. Secara demikian kesusilaan mengatur perilaku manusia serta masyarakat, yang di dalamnya manusia tersebut ada. Behubung dengan itu manusia tidak boleh semaunya sendiri berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Perilakunya diatur atau ditentukan oleh norma kesusilaan.

Dapat juga dikatakan bahwa manusia dibentuk oleh kesusilaan. Ini berarti bahwa kehidupan alaminya, seperti nafsunya, kecenderungan, cita-cita, dan sebagainya, seolah-olah disalurkan atau tertuang ke dalam bentuk tertentu. Demikianlah, umpananya, perwujudan seksualitas, suatu keadaan alami, mendapatkan pembatasan, disalurkan atau dibentuk oleh aturan-aturan yang mengatakan bahwa bagaimana seharusnya seorang laki-laki dan perempuan yang sudah masak ditinjau dari segi seksual berperilaku terhadap seseorang dari lawan jenisnya, syarat-syarat apakah yang harus dipenuhi yang membolehkan wanita dan pria bergaul dan sebagainya. Aturan-aturan ini secara keseluruhan dinamakan moral seksual.

Kumpulan aturan semacam ini berlaku juga dalam bidang-bidang kehidupan yang lain. Dengan demikian aturan-aturan tersebur sudah mengandaikan suatu kehidupan alami atau katakanlah kehidupan hewani, namun menetapkan syarat-syarat tertentu bagi perwujudannya. Manakala seseorang memenuhi syarat-syarat kesusilaan itu, maka perilakunya dan dia sendiri disebut baik (dari segi kesusilaan), dalam hal yang sebaliknya dikatakan buruk (dari segi kesusilaan).

Norma-norma kesusilaan kadang- kadang bersifat tertulis dan kadang- kadang tidak. Di atas telah diberikan contoh mengenai ketentuan-ketentuan moral yang dikodifikasikan dan yang tidak dikodifikasikan. Sistem-sistem kesusilaan yang berasal dari para pendiri agama yang besar atau para pembentuk hokum kesusilaan yang besar, biasanya bersifat tertulis. Lazimnya yang demikian itu bersangkutan dengan hal-hal pokok belaka, meskipun dapat saja terjadi bahwa kitab-kitab hukum keagamaan bersifat agak panjang lebar.

Norma-norma yang lebih terjabar misalnya tidak ditetapkan secara tertulis kecuali kadang-kadang dalam buku-buku pegangan mengenai moral. Bahkan karya tulis yang paling panjang lebar sekalipun tidak akan dapat memberikan segenap peraturan khusus. Dalam bidang kesusilaan banyak yang tetap dihayati di dalam keinsyafan kesusilaan manusai-manusia yang bersangkutan. Jelaslah kiranya tidak ada moral tunggal yang diterima oleh segenap manusia, melainkan terdapat banyak moral yang berbeda-beda menurut waktu, tempat dan keadaan.

 

Etika

Kini dapatlah kita memahami secara lebih baik, apakah artinya bila dikatakan, etika ialah ilmu pengetahuan mengenai kesusilaan. Ini berarti bahwa etika membicarakan kesusilaan secara ilmiah. Gejala atau lebih tepat kumpulan gejala yang dinamakan kesusilaan, moral atau ethos dapat juga ditinjau secara lain. Setiap orang menghadapi masalah-masalah kesusilaan, yang barangkali direnungkannya. Misalnya ia mendengar terjadinya suatu peristiwa bunuh diri yang sangat mengharukan, ia merenungkannya dan mempertanyakannya dalam hati; apakah bunuh diri itu sesungguhnya diperbolehkan. Jika ia melakukan hal semacam itu, maka ia telah berurusan dengan etika, meskipun hanya secara kebetulan, secara sepotong-sepotong atau secara tidak sistemik, dengan demikian secara prailmiah.

Juga masalah-masalah kesusilaan yang lain merangsangnya untuk merenungkannya, mungkin sekali ia membandingkan kesimpulan yang ditariknya dengan kesimpulan orang lain. Dapat terjadi bahwa ia menuliskan hasil pertimbangannya –meskipun untuk sementara masih tidak begitu saling berhubungan atau setidaknya saling berhubungan secara longgar— sedikit banyak bersifat aforistik. Kita memiliki berbagai kumpulan aforisma kesusilaan yang berasal dari Yunani Kuno. Ajaran-ajaran kesusilaan tersebut tercampur dengan nasihat-nasihat bagaimana manusia dapat mencapai hidup yang memuaskan, yang bahagia.

Mungkin juga orang meletakkan hubungan yang lebih besar antara ajaran-ajaran kesusilaan. Di dalam sejarah kita dapati banyak kaum moralis. Salah seorang yang tertua ialah Theophrastus, seorang murid dan pengganti Aristoteles sebagai pimpinan madzabnya, mewariskan sekumpulan apa yang dinamakan “perwatakan”.

Yang terkenal dari abad 17 dan 18 di kemudian hari ialah para moralis La Rochefoucauld, La Bruyere dan Vauvenar gues yang membuat catatan-catatan yang tajam mengenai perilaku orang-orang yang hidup sejaman dengan mereka. Masyarakat pada jaman mereka hidup menaruh kebencian terhadap penyair pengejek Inggris, Jonathan Swiff, yang menceritakan tentang kisah perjalanan Gulliver dan Mandeville dalam Fabel Lebah. Dalam hubungan ini dapat juga kita ingat tokoh Belanda abad 18, Justus van Effen, dan para pengikutnya. Hieronymus van Alphen memberikan ajaran kesusilaan bagi anak-anak dalam bentuk syair.

Bentuk sastra yang berisi ajaran kesusilaan yang sangat disukai ialah bentuk fabel hewan, seperti Van de Vos Reinaerde serta fable-fabel hasil karya La Fontaine. Yang menarik ialah bahwa upaya memberikan ajaran kesusilaan sering berbentuk kebencian serta ejekan terhadap cela. Acap kali ternyata bahwa kaum moralis memiliki banyak sekali pengetahuan tentang manusia.

Dengan menyebutkan sejumlah penulis di atas dan terutama dengan menyebutkan para penulis fable hewan, sampailah kita pada bentuk pembicaraan yang lain mengenai masalah-masalah kesusilaan, yaitu masalah seni sastra. Banyak roman drama serta syair membahas masalah-masalah kesusilaan yang sering mendalam. Juga hasil-hasil karya sastra itu sering menunjukkan terdapatnya pengetahuan yang dalam tentang manusia. Dalam hal ini kita lebih baik berbicara mengenai perenungan non-etik disbanding perenungan pra-etik mengenai masalah-masalah kesusilaan. Perenungan pertama dapat beralih kepada etika yang lebih ilmiah, perenungan terakhir dapat memberikan bahan bagi etika yang demikian itu, namun tidak dapat beralih kepadanya.

Yang membedakan etika dari segenap cara pendekatan mengenai masalah kesusilaan ialah etika membahas masalah kesusilaan serta ilmiah. Ungkapan ini nantu akan menjadi jelas. Pernyataan yang menyebutkan etika sebagai ilmu pengetahuan mengenai kesusilaan membawa akibat bahwa hendaknya dipilihkan antara etika dengan kesusilaan, yaitu sebagai objek ilmu pengetahuan tersebut.

Sering terjadi, orang memakai kata-kata etik dan susila secara saling dipertukarkan, yang satu dijumbuhkan dengan yang lain. Sering kali juga orang mengatakan etik, sedangkan yang dimaksud ialah susila atau bermoral. Orang berbicara mengenai manusia yang tinggi martabatnya ditinjau dari segi etik, perilaku etik, motif-motif etik, sedangkan seharusnya yang dipakai ialah kata-kata susila.

Yang demikian ini seperti kerancuan yang terdapat antara pengertian psikologik (bersifat atau secara ilmu jiwa) dengan pengertian psikik (bersifat atau secara kejiwaan). Psikologi ialah ilmu pengetahuan mengenai hal-hal yang bersifat psikik, sehingga kita dapat berbicara mengenai hasil karya psikologik dan penyelidikan psikologik, tetapi tidak dapat berbicara mengenai factor-faktor psikologik. Pemakaian bahasa yang lurus, menghendaki agar dalam hal yang terakhir tadi orang mengatakan factor-faktor psikik. Sesungguhnya kerancuan semacam itu dapat kita simak pula pada bidang-bidang yang lain.

Bukannya sesuatu yang tidak penting, bahwa seseorang menjaga kemurnian pemakaian bahasanya. Pemakaian bahasa yang tidak murni mencerminkan pemikiran yang tidak murni atau setidaknya pemikiran ceroboh, dan pada gilirannya menggalakkannya. Karena itulah hendaknya kita memilihkan kata “etik” dari kata “susila” atau bermoral.

Etika Deskriptif

Sebenarnya tidak hanya terdapat satu ilmu pengetahuan tentang kesusilaan, melainkan banyak macamnya. Pada garis besarnya dapat dibedakan ke dalam dua kelomopik besar. Kelompok yang pertama semata-mata bekerja secara rasional-empirik seperti halnya terjadi pada ilmu pengetahuan lain pada umumnya. Kelompok ini bertolak dari kenyataan adanya gejala-gejala kesusilaan yang dapat dilukiskan serta dijelaskan secara ilmiah seperti halnya gejala-gejala kerohanian yang lain, misalnya seni, hukum dan agama. Dengan demikian timbul etika deskriprif sebagai bagian dari ilmu pengetahuan kerohanian atau kebudayaan. Yang belakangan ini terbagi lagi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, yang saling berhubungan karena punya kesamaan obyek, namun tidak sepenuhnya persis satu sama lainnya, dan bahkan tidak dapat dipandang sebagai bagian-bagian suatu kebulatan.

Ada banyak ilmu pengetahuan deskriptif mengenai kesusilaan yang diakibatkan oleh kenyataan bahwa bahan-bahan yang ada, dapat dibicarakan dengan berbagai cara ilmiah. Kesusilaan sebagai gejala masyarakat dapat ditinjau secara sosiologik, dan dengan demikian menimbulkan sosiologi kesusilaan. Karena kesusilaan merupakan keseluruhan gejala-gejala kesadaran, maka dapat juga muncul psikologi kesusilaan, dan bahkan karena kesusilaan dapat juga menggambarkan gejala-gejala penyakit, maka kita dapati pula psikopatologi kesusilaan serta psikiatri kesusilaan.

Etika deskriptif mempuyai dua bagian yang sangat penting. Yang pertama ialah sejarah kesusilaan. Bagian ini timbul apabila orang menerapkan metode historik dalam etika deskriptif. Dalam hal ini yang diselidiki ialah pendirian-pendirian mengenai baik dan buruk manakah, norma-norma kesusilaan yang manakah yang pernah berlaku dan cita-cita kesusilaan yang manakah yang dianut oleh bangsa-bangsa tertentu, apakah terjadi penerimaan norma-norma atau cita-cita kesusilaan oleh bangsa atau lingkungan kebudayaan yang satu dari bangsa-bangsa atau lingkungan kebudayaan yang lain, dan seandainya benar bagaimanakah terjadinya dan bagaimana cara mengolahnya. Perubahan-perubahan apakah yang dialami oleh kesusilaan dalam perjalanan waktu, hal-hal apakah yang mempengaruhinya, dan sebagainya.

Sejarawan kesusilaan mendasarkan diri pada aneka ragam dokume. Tujuannya akan lebih cepat tercapai apabila ia mempunyai tulisan-tulisan kesusilaan yang berpengaruh pada suatu masa tertentu. Begitulah hukum-hukum yang banyak terkandung dalam kitab-kitab Exodus sampai Deuteronomium dari Perjanjian lama yang mencerminkan ukuran-ukuran kesusilaan yang dipakai bangsa Yahudi pada kurun waktu tertentu dalam sejarah, dan tulisan-tulisan Homerus menggambarkan cita-cita kesusilaan pada suatu masa tertentu di dalam sejarah Yunani.

Dalam hal ini hendaknya diingat bahwa dokumen-dokumen semacam ini tidak mengatakan segala-galanya mengenai kehidupan kesusilaan senyatanya dari manusia-manusia yang hidup pada kurun-kurun waktu tersebut. Dokumen-dokumen tersebut lebih menggambarka cita-cita dibandingkan kenyataan. Suatu hal yang memang agak sukar memahaminya; kadang-kadang secara tidak terduga orang dapat mengetahui keadaan yang senyatanya berdasarkan atas bahan-bahan keterangan yang lain. Namun adanya kenyataan bahwa setiap kali diperlukan lagi imbauan-imbauan kesusilaan yang keras menunjukkan, secara umum orang tidak menepati norma-norma yang berlaku, meskipun harus juga diingat bahwa para pengkhotbah kesusilaan sering menjadi orang-orang yang kerjanya semata-mata mengeluh mengenai pencemaran kesusilaan dan gemar sekali mengakatakan yang buruk-buruk tentang keadaan kesusilaan pada masa hidup mereka.

Dokumen-dokumen yang juga dipakai oleh para sejarawan, termasuk tulisan-tulisan para ahli etika yang sangat banyak jumlahnya. Tetapi hendaknya diingat sejarah etika belum berarti sejarah kesusilaan, dan bahkan antara etika dan kesusilaan terdapat dua macam perbedaan. Pertama, seperti telah dikatakan, ada jarak pemisah antara yang diajarkan dengan kenyataan yang dihayati. Kedua, petunjuk-petunjuk serta cita-cita kesusilaan diajarkan sering berbeda dengan petunjuk serta cita-cita kesusilaan yang diterima secara umum. Kita melakukan kekeliruan apabila menjumbuhkan etika Aristoteles dengan norma-norma kesusilaan yang berlaku pada masa hidupnya dan dalam lingkungan hidupnya, apabila kita menjumbuhkan antara cita-cita pendidikan Van  Alphen dengan cita-cita yang nyata-nyata dipunyai oleh anak-anak yang hidup semasa dengan dia. Di lain pihak seorang ahli etika tidak pernah terlepas dari masa hidupnya; ia berpengaruh dan pada gilirannya mempengaruhinya, sehingga bagaimanapun sejarah etika penting juga bagi sejarah kesusilaan.

Ilmu pengetahuan kedua yang perlu disebut dalam hubungan ini ialah fenomenologi kesusilaan. Dalam hal ini istilah fenomenologi dipergunakan dalam arti seperti yang dipunyai dalam ilmu pengetahuan agama. Fenomologi agama mencari makna keagamaan dari gejala-gejala keagamaan, mencari logos, susunan batiniah yang mempersatukan gejala-gejala ini dalam keselerasan tersembunyi dan penataan yang mengandung makna. Demikian pula fenomologi kesusilaan mencari makna kesusilaan dari gejala-gejala kesusilaan. Artinya, ilmu pengetahuan ini melukiskan kesusilaan sebagaimana adanya, memperlihatkan ciri-ciri pengenal, bagaimana hubungan yang terdapat antara ciri yang satu dengan yang lain, atau singkatnya mempertanyakan apakah yang merupakan hakekat kesusilaan. Yang dilukiskan dapat berupa kesusilaan tertentu, namun dapat juga berupa moral pada umumnya.

Ciri pokok fenomenologi, menghindari pemberian tanggapan mengenai kebenaran. Ia tidak mempersoalkan apakah seyogyanya manusia dipimpin atau tidak dipimpin oleh petunjuk-petunjuk kesusilaan tertentu. Ilmu pengetahuan ini menempatkan diri dalam kedudukan manusia-manusia yang bersangkutan dalam pemberian tanggapana kesusilaan dan memandang obyeknya dari kedudukan tadi.

Berhubung fenomenologi hanya mencerminkan azas-azas serta susunan umum kesusilaan deskriptif, maka ilmu pengetahuan ini masih tetap bersifat formal. Namun sesungguhnya, fenomenalog akan dapat dengan mudah menggerakkan seorang penyelidik lebih jauh. Dan justru karena tidak mempersoalkan masalah kebenaran, maka didalamnya tetap terdapat masalah-masalah yang bagaimanapun memerlukan penyelesaian.

Masalah-masalah ini bersifat kefilsafatan. Pertanyaan utama ialah apakah kesusilaan harus dipahami dari dirinya sendiri ataukah kesusilaan itu didasarkan atas sesuatu yang lain. Dengan kata lain, apakan kesusilaan mengacu ataukah tidak mengacu kepada sesuatu yang terdapat di atas atau setidak-tidaknya di luar dirinya sendiri. Munculnya pertanyaan mengenai dasar kesusilaan tidaklah mungkin dielakkan.

Etika Normatif

Kelompok  ilmu pengetahuan mengenai kesusilaan yang lain tidaklah mengandung watak deskriptif, melainkan normatif. Kelompok ini mendasarkan diri pada sifat hakiki kesusilaan bahwa di dalam perilaku serta tanggapan-tanggapan kesusilaanya, manusia menjadikan norma-norma kesusilaan sebagai panutannya. Setiap ilmu pengetahuan, tidak terkecuali juga ilmu pengetahuan deskriptif mengenai kesusilaan yang beraneka ragam, mestinya memperhitungkan kenyataan ini; seharusnya ilmu-ilmu pengetahuan itu memperhatikan hal tersebut ketika melukiskan objeknya. Tetapi ilmu pengetahuan ini tidak lebih sekedar menetapkan faktanya, tanpa membicarakannya lebih lanjut. Ilmu-ilmu pengetahuan tersebut semuanya tidak ada yang mempertanyakan benar tidaknya, melainkan mengambil kedudukan yang tidak memihak.

Berdasarkan sudut pandang ilmiah, yaitu sudut pandangan seorang penonton, etika menetapkan bahwa manusia memakai norma-norma sebagai panutannya, tetapi tidak memberikan tanggapan mengenai kelayakan ukuran-ukuran kesusilaan. Sah tidaknya norma-norma tetap tidak dipersoalkan; yang diperhatikan hanya berlakunya.

Kiranya sudah jelas, sikap tidak memihak yang diambil oleh seorang penyelidik tidaklah berarti bahwa secara pribadi ia tidak mempunyai pertimbangan kesusilaan. Tidak seorang pun dapat terhindar dari pertimbangan-pertimbangan semacam ini. Dan di samping itu, seorang penyelidik memerlukan keinsyafan tentang baik dan buruk dan dengan demikian merupakan makhluk susila, justru mengingat objek yang diselidikinya. Seorang manusia yang tidak susila tidak akan dapat memberikan pertimbangan mengenai kesusilaan secara lebih lurus, bisa disebandingkan seorang buta yang memberikan pertimbangan mengenai warna. Seorang yang sama sekali tidak punya rasa seni suara kiranya sukar sekali dapat ditugasi menganalisa sebuah simfoni karya Beethoven. Bahkan seyogyanya seorang ahli etika ketika  melukiskan moral tertentu mempunyai pertalian sekadarnya dengan moral tersebut. Seorang akan sulit sekali menghayati sesuatu, bila ia sama sekali tidak mendasarkan diri atas hal itu.

Itulah sebabnya mengapa kita sering menyaksikan adanya penggambaran yang salah, bila seseorang dari luar lingkungan yang bersangkutan melukiskan gejala kesusilaan tertentu, meskipun ia sangat mahir dan beriktikad baik. Memang dikehendaki agar seorang ahli etika tidak membiarkan penilaian-penilaian pribadinya mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan ilmiahnya, bahkan diisyaratkan agar ia melakukan “epoche” atau menghindari pemberian tanggapan. Tetapi seorang ahli etika dapat juga mengambil sikap lain, dan meninggalkan pendirian yang netral, yaitu pendirian sebagai seorang pegamat.

Dalam hal ini ia bertolak dari pendirian bahwa moral tertentu benar. Artinya, norma-norma kesusilaan tertentu dipandang tidak hanya merupakan fakta, melainkan juga bersifat layak, dan karenanya berlaku sah. Dengan demikian ia telah berpihak, karena memberikan persetujuan kepada moral tertentu. Tetapi berhubung ia hendak bekerja secara ilmiah, maka persetujuan yang telah diberikannya dipakai sekedar sebagai titik tolaknya. Selanjutnya ia merenungkannya, melukiskan, menjelaskan serta memberikan dasar-dasar terhadap moral tertentu ini, yang ia hayati serta ia jadikan pedoman hidupnya, dan melakukan hal-hal lain sejauh yang dimungkinkan. Kiranya jelas, secara demikian akan muncul bentuk etika yang lain dibanding yang disebut di atas.

Pada mulanya perbedaan tersebut belum tentu terlihat. Berdasarkan pendirian yang disebut belakangan tati orang juga mengadakan analisa, melakukan penataan, menghubungkan bagian yang satu dengan bagian yang lain, dan sebagainya. Namun segera akan tampak perbedaanya, di sini seorang ahli etika tidak hanya memberikan pertimbangan-pertimbangan ilmiah, melainkan juga pertimbangan-pertimbangan kesusilaan. Umpamanya, ia tidak sekedar mengatakan bahwa dalam lingkungan moral tertentu poligami dilarang, melainkan juga mengatakan bahwa larangan tersebut memang tepat. Mungkin saja ia tidak secara tegas-tegas mengatakan hal itu, namun setiap kali penilaiannya tersebut dapat dibaca dalam apa yang tersirat. Juga hal ini jelas tampak dalam sikap seorang ahli etika yang menolah pendapat-pendapat kesusilaan yang lain daripada pendapat-pendapat yang dipandangnya layak.

Ini menunjukkan bahwa etika dalam arti yang demikian tadi tampil berdasar kewibawaan. Sesungguhnya kewibawaan inibersifat derivatif, yaitu dijabarkan dari moral yang ia gambarkan, namun memang keyakinan yang derivatif itulah  yang ingin dimilikinya. Dengan kata lain etika semacam ini tidak hanya sekedar bersifat deskriptif, melainkan juga bersifat normatif; ia tidak hanya melukiskan apa yang berlaku melainkan mempertahankan berlakunya itu; ia tidak hanya mengatakan; demikianlah keadaannya, melainkan juga demikianlah seharusnya; ia tidak hanya memberitahukan pengetahuan melainkan hendak mewartakan suatu ajaran.

Oleh sebab itu, etika ini sekedar merupakan ilmu pengetahuan mengenai kehidupan praktik, melainkan juga bersifat praktik, karena langsung tertuju pad praktek. Ia bertolak dari kehidupan dan secara demikian sangat erat pertaliannya dengan kehidupan, barangkali lebih dekat dibanding ilmu pengetahuan lain yang mana pun. Inilah yang merupakan daya tariknya, karena tidak sekedr merupakan graue theorie (teori yang samar-samar). Tetapi juga membawa serta bahaya, hawa nafsu, pamrih, prasangka, dan sebagainya lebih mudah mengeruhkannya dibanding yang dapat terjadi pada ilmu-ilmu pengetahuan yang lain.

Kiranya jelas bahwa etika normative tidak dapat sekedar melukiskan susunan-susunan formal kesusilaan. Ia menunjukkan perilaku manakah yang baik dan perilaku manakah yang buruk, yang demikian ini kadang-kadang disebut ajaran kesusilaan, sedangkan etika deskriptif disebut juga ilmu kesusilaan. Yang pertama senantiasa merupakan etika material.

Mungkin timbul pertanyaan apakah etika normative merupakan ilmu pengetahuan. Pertanyaan ini lebih mencekam lagi karena biasanya etika dibicarakan sebagai bagian filsafat atau teologi, orang dapat mempertanyakan apakah filsafat dan teologi merupakan ilmu pengetahuan. Jawaban atas pertanyaan ini tergantung pada isi yang diberikan kepada pengertian ilmu pengetahuan. Apabila yang dimaksudkan sebagai ilmu pengetahuan ialah ilmu alam dan juga seandainya ilmu sejarah termasuk di dalamnya, maka etika normative bukan merupakan ilmu pengetahuan. Teologi, filsafat dan juga etika normative memperhatikan kenyataan-kenyataan, yang tidak dapat ditangkap dan diversifikasi secara empiric. Namun masih menjadi tanda Tanya apakah kesulitan ini dijadikan keberatan yang tidak dapat diatasi, sehigga pengertian ilmu pengetahuan hanya terbatas meliputi ilmu-ilmu pengetahuan empiric.

Mungkin juga ada pendirian yang lebih luas mengenai ilmu pengetahuan; menurut pendirian ini sesungguhnya ilmu pengetahuan ialah kecenderungan akan kebenaran yang terlatih secara metodik. Ilmu pengetahuan dapat dikatakan ada bila manusia berusaha untuk mengetahui kebenaran dengan segenap tenaga serta sarana yang dipunyainya, serta terlatih dalam menggunakannya, menurut metode-metode yang khusus. Sudah tentu metode yang dipakai harus disesuaikan dengan objeknya. Apabila etika normative mempunyai objek yang berjenis khusus, maka ia harus mengembangkan metode tersendiri. Tetapi ia tetap merupakan ilmu pengetahuan, selama bertolak dari pengalaman, meskipun pengalaman semacam ini berupa pengalaman khusus dan cara berpikir hendak menembus ke dalamnya.

Di dalam telaah-telaah berikut, sebagian besar kita berkecimpung dalam bidang etika deskriptif, meskipun di sana sini dengan sendirinya akan tampak pendirian penulis. Dalam hal ini sikap menghindari pemberian tanggapan dipermudah karena kita membicarakan sesuatu moral tertentu. Dengan demikian kita melukiskan kesusilaan pada umumnya, setidaknya seperti yang dipahamkan orang dalam lingkungan kebudayaan kita dan juga di luarnya. Maka kita tetap berada dalam bidang etika formal serta berada di luar bidang etika material.

Manakala kita memasuki juga bidang etika material, akan jaul lebih sukar untuk tidak memberikan pertimbangan dari sudut pangangan tertentu. Memang dalam bagian pertama yang bersifat fenomenalogik dimungkinkan dan bahkan dperlukan untuk bersikap menghindari pemberian tanggapan, karena yang menjadi masalah di sini ialah sekedar memberikan penggambaran secara tepat. Dalam bagian kedua sikap yang demikian lebih sulit dan bahkan tidak mungkin diambil. Dalam bagian ini ditunjukkan dengan cara bagaimanakah orang telah berusaha untuk memberikan dasar-dasar kebada kesusilaan, dan dengan demikian dalam arti tertentu memberikan penjelasan mengenai kesusilaan.

Nampaklah di sini orang sulit untuk tetap merasa puas dengan menggambarkan belaka. Ketidakpuasan ini dapat beralih menjadi kecaman. Kecaman ini bukan hanya bersumber pada keadaan-keadaan dari bahan yang dibicarakan dan juga tidak semata-mata berdasarkan penggambaran yang diberikan mengenai gejala kesusilaan pada umumnya, melainkan juga dilancarkan dari sudut pandang tertentu. Dengan demikian, pendirian yang bersangkutan akan tampak dengan jelas. Namun sesungguhnya adanya kecaman tersebut sudah mengandaikan bahwa sebelumnya telah terjadi penggambaran secara orjektif mengenai system yang dikecam.

 

Faedah Etika

Sebelum kita membicarakan pokok masalah, masih ada satu pertanyaan yang harus dijawab, yaitu pertanyaan menyangkut arti, makna atau nilai etika. Bagaimanapun kita ingin mengetahui mengapa orang bersusah payah dan mengapa kita harus bersungguh-sungguh mendalami gejala kesusilaan. Di sini muncul pertanyaan “Apakah yang dapat kita harapkan dari etika?” atau “Apakah yang diberikan kepada kita atau faedah apakah yang dapat kita peroleh darinya?”. Pertama-tama jawabannya tentu berbunyi “Etika memberikan kita apa yang diberikan oleh setiap ilmu pengetahuan, etika memenuhi keingintahuan manusia”.

Manusia ingin tahu, ia ingin mendapatkan pengetahuan dan seyogyanya pengetahuan yang sistemik, yang teratur, mengenai gejala-gejala yang bersangkutan dengan dirinya. Salah satu di antaranya ialah kesusilaan. Ini merupakan gejala yang sangat penting dan menarik, karena ia menyebabkan kita bersentuhan dengan segi hakiki kehidupan manusia.

 

DAFTAR PUSTAKA:

Devos, DR. H. 1990. Pengantar Etika. Jakarta: Tiara Wacana

Hazlitt, Henry. 2003. Dasar-Dasar Moralitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Desember 2009 in Etika Administrasi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: