RSS

Arsip Kategori: Manajemen Pendidikan

Manajemen Mutu Terpadu

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu cita-cita nasional yang harus terus diperjuangkan oleh bangsa Indonesia ialah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan nasional. Masa depan dan keunggulan bangsa kita ditentukan oleh keunggulan sumber daya manusia yang dimiliki, di samping sumber daya alam dan modal.

Pembangunan bidang pendidikan yang dilaksanakan pemerintah bersama masyarakat merupakan upaya mewujudkan cita-cita nasional tersebut. Namun demikian, dalam pelaksanaan/prakteknya ternyata pendidikan Indonesia belum menghasilkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan negara lain.

Di samping itu, sampai dasawarsa terakhir pengujung abad ke-20, dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan masyarakat. Fenomena tersebut ditandai dengan rendahnya mutu lulusan, penyelesaian masalah pendidikan yang tidak tuntas atau cenderung tambal sulam, bahkan lebih berorientasi proyek. Akibatnya sering kali hasil pendidikan mengecewakan masyarakat. Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi, sosial, politik dan budaya. Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan pasar tenaga kerja dan pembangunan. Bahkan sumber daya manusia yang disiapkan melalui pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi akhlak, moral, dan jati diri bangsa dalam majemuknya budaya bangsa.

Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat menjadi pesimis terhadap sekolah. Sistem pendidikan nasional harus dikelola dengan menerapkan manajemen mutu jika kita ingin membangun dan meningkatkan kepercayaan masyarakat (pelanggan pendidikan).

B. Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Jelaskan konsep dasar manajemen mutu terpadu dalam pendidikan?
  2. Bagaimana penerapan manajemen mutu dalam pendidikan?

 

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Manajemen Mutu Terpadu

Pengertian Manajemen Mutu Terpadu

Istilah utama yang terkait dengan kajian Total Quality Management (TQM) ialah continuous improvement (perbaikan terus-menerus) dan quality improvement (perbaikan mutu). Sebagai suatu strategi manajemen, sprektum aktivitas manajemen mutu terpadu berorientasi pada upaya untuk memperbaiki material dan jasa yang menjadi masukan organisasi dan memperbaiki upaya dalam memenuhi kebutuhan para pemakai produk dan jasa pada masa kini dan di waktu yang akan datang. Manajemen mutu terpadu merupakan salah satu strategi manajemen untuk menjawab tantangan eksternal suatu organisasi guna memenuhi kepuasan pelanggan.

Para ahli manajemen telah banyak yang mengemukakan pengertian tentang Total Quality Management (TQM). Salah satu di antaranya ialah Edward Sallis (1993: 13) yang menyatakan bahwa manajemen mutu terpadu merupakan suatu filsafat dan metodologi yang membantu berbagai institusi, terutama industri, dalam mengelola perubahan dan menyusun agenda masing-masing untuk menanggapi tekanan-tekanan faktor eksternal.

Manajemen mutu terpadu merupakan suatu teori ilmu manajemen yang mengarahkan pimpinan organisasi dan personelnya untuk melakukan program perbaikan mutu secara berkelanjutan yang terfokus pada pencapaian kepuasan dari para pelanggan.

Jargon utama yang mendasari falsafah manajemen mutu terpadu terfokus pada pernyataan “Do the right things, first time, every time”, yang artinya kerjakan sesuatu yang benar sejak pertama kali, setiap waktu.

Hakikat Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan

Dalam aplikasinya, istilah mutu terpadu dalam pendidikan disebut pula Total Quality Education (TQE). Dalam konteks aplikasi konsep manajemen mutu terpadu terhadap pendidikan dapat saja disebutkan “mengutamakan pelajar” atau “program perbaikan sekolah” yang mungkin dilakukan secara lebih kreatif dan konstruktif. Penekanan paling penting bahwa mutu terpadu dalam programnya dapat mengubah kultur sekolah. Para pelajar dan orang tuanya menjadi tertarik terhadap perubahan yang ditimbulkan manajemen mutu terpadu melalui berbagai program perbaikan mutu.

Keuntungan yang dicapai dengan menerapkan manajemen mutu terpadu dalam pendidikan di antaranya adalah:

  1. memperkuat organisasi sekolah dan memberikan peta jalan atau arah bagi perusahaan
  2. menolong kita untuk bekerja sebagai teman dalam kelompok kerja, bukan sebagai musuh
  3. mengupayakan suatu program yang akan mengusahakan bukan hanya penanganan satu aspek saja dari pendidikan, tetapi menjadi pendekatan yang holistik dan menyebabkan semua unsur sekolah mengubah cara yang mengarahkan drinya
  4. mengarahkan para orang tua dan pelajar untuk memberikan saran untuk memajukan keadaan sekolah
  5. mengarahkan dan mengendalikan pengaruh segala sesuatu yang kita lakukan dan cara kita mengendalikan

B. Penerapan Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan

Kepemimpinan untuk Mutu Pendidikan

Kelangsungan hidup dan keberhasilan organisasi pada saat ini tergantung pada kemampuannya dalam mengantisipasi perubahan lingkungan eksternal. Dalam konteks ini, organisasi harus memiliki pimpinan yang efektif dalam menjalankan manajemen untuk mengelola perubahan yang ada dan berkelanjutan. Tantangan bagi seorang manajer pendidikan (kepala sekolah/madrasah, pimpinan pesantren, rektor atau direktur) adalah bagaimana menjadi pendorong atau pelopor perubahan lembaga pendidikan yang dipimpinnya.

Upaya memperbaiki kualitas suatu organisasi sangat ditentukan oleh mutu kepemimpinan dan manajemen yang efektif. Dukungan dari bawahan hanya akan muncul secara berkelanjutan ketika pimpinannya benar-benar berkualitas dan unggul.

Yang dimaksud dengan pemimpin dalam pendidikan adalah semua orang yang bertanggung jawab dalam proses perbaikan yang berada pada semua level kelembagaan pendidikan. Para pemimpin pendidikan harus memiliki komitmen terhadap perbaikan mutu dalam fungsi utamanya. Oleh karena itu, fungsi dari kepemimpinan pendidikan haruslah tertuju pada mutu belajar serta semua staf lain yang mendukungnya.

Menurut Edwin A. Locke (1997), funsi utama pemimpin adalah menetapkan sebuah visi untuk organisasi dan mengkomunikasikannya kepada anggota. Sedangkan peranan kepemimpinan pada setiap level organisasi akan menentukan pencapaian perbaikan mutu. Menurut Sallis (1993), ada beberapa peranan utama pemimpin pendidikan dalam mengembangkan kultur (budaya) mutu, di antaranya adalah:

  1. Memiliki visi yang jelas mengenai mutu terpadu bagi organisasinya
  2. Memiliki komitmen yang jelas terhadap perbaikan mutu
  3. Menjamin bahwa kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan pekerjaan organisasi
  4. Menjamin bahwa kejelasan struktur organisasi menegaskan tanggung jawab dan memberikan pendelegasian yang cocok dan maksimal
  5. Membangun kelompok kerja aktif
  6. Membangun mekanisme yang sesuai untuk memantau dan mengevaluasi keberhasilan

Pemberdayaan Guru

Pemberdayaan berarti memberikan pegawai suatu pekerjaan untuk dilakukan dan kebebasan bagi mereka untuk melakukannya secara kreatif. Konsep pemberdayaan bersifat humanistik. Pemberdayaan guru termasuk pegawai salah satunya adalah melalui pembagian tanggung jawab. Keberadaan guru sebagai staf dalam proses pembelajaran dan pengajaran di lembaga pendidikan menjadi salah satu pilar kepemimpinan pendidikan.

Proses memberdayakan guru bukan suatu hal yang mudah. Kepala sekolah dalam menjalankan kepemimpinan pendidikan, perlu melakukan beberapa hal penting dalam rangka pemberdayaan guru. Hal-hal tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Melibatkan guru dan semua staf dalam aktivitas penyelesaian masalah dengan menggunakan metode ilmiah dan prinsip pengawasan mutu dengan statistik
  2. Meminta pendapat dan aspirasi mereka tentang sesuatu dan bagaimana sebuah proyek ditangani, jangan menggurui mereka
  3. Memahami keinginan untuk perbaikan yang berarti bagi guru tidak cocok dengan pendekatan top down terhadap manajemen
  4. Memberikan otonomi dan keberanian mengambil resiko Membangun tim kerja, proses manajemen, pelayanan pelanggan, kmunikasi dan kepemimpian

Kelompok Kerja untuk Meraih Mutu

Kerja sama tim dalam menangani suatu proyek perbaikan atau pengembangan mutu pendidikan merupakan salah satu dari pemberdayaan pegawai dan kelompok kerjanya, dengan memberikan tanggung jawab yang lebih besar.  Keberadaan tim kerja sama sebagai modal utama untuk meraih mutu melalui proses perbaikan mutu. Mereka perlu saling mendorong atau bersinergi untuk bekerja sama dalam bidang akademik dan pendukung lainnya, seperti tim pengajar.

Berkaitan dengan pentingnya suatu tim dalam penerapan manajemen mutu terpadu untuk mengejar mutu pendidikan, maka beberapa langkah yang harus dilalui dalam membentuk tim kerja perbaikan mutu adalah (1) pembentukan tim; (2) penggugahan; (3) penetapan norma atau tata kerja; dan (4) melakukan kegiatan.

Alat dan Teknik Perbaikan Mutu

Alat-alat dan teknik mutu berarti mengenali penyelesaian masalah secara kreatif. Beberapa alat yang dapat digunakan dalam perbaikan mutu pendidikan adalah:

  1. Gugah pikiran (brainstorming)
  2. Jaringan kerja kemiripan (affinity network)
  3. Diagram tulang ikan (fishbone diagram or ishikawa)
  4. Analisis keadaan lapangan (force-field analysis)
  5. Pendiagraman (process charting)
  6. Diagram arus (flowcharts)
  7. Analisis pareto (pareto analysis)
  8. Pengukuran kinerja (benchmarking)
  9. Pemetaan arah karier (career path-maping)

Strategi Implementasi Manajemen Mutu Pendidikan

Untuk menerapakan manajemen mutu terpadu dalam pendidikan, ada sepuluh langkah yang harus dilalui, yaitu:

  1. Mempelajari dan memahami manajemen mutu terpadu secara menyeluruh
  2. Memahami dan mengadopsi jiwa dan filosofi untuk perbaikan terus menerus
  3. Menilai jaminan mutu saat ini dan program pengendalian mutu
  4. Membangun system mutu terpadu
  5. Mempersiapkan orang-orang untuk perubahan, menilai budaya mutu sebagai tujuan untuk mempersiapkan perbaiakan, melatih orang-orang untuk bekerja pada suatu kelompok kerja
  6. Mempelajari teknik untuk menyerang atau mengatasi akar persoalan dan mengaplikasikan tindakan koreksi dengan menggunakan teknik dan alat manajemen mutu terpadu
  7. Memilih dan menetapkan pilot project untuk diaplikasikan
  8. Tetapkan prosedur tindakan perbaikan dan sadari akan keberhasilannya
  9. Menciptakan komitmen dan strategi yang benar mutu terpadu oleh pemimpin yang akan menggunakannya
  10. Memelihara jiwa mutu terpadu dalam penyelidikan dan aplikasi pengetahuan yang amat luas

 

BAB III PENUTUP

Dari uraian-uraian yang telah dituliskan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa manajemen mutu terpadu merupakan suatu teori ilmu manajemen yang mengarahkan pimpinan organisasi dan personelnya untuk melakukan program perbaikan mutu secara berkelanjutan yang terfokus pada pencapaian kepuasan dari para pelanggan.

Keuntungan yang dicapai dengan menerapkan manajemen mutu terpadu dalam pendidikan di antaranya adalah (1) Memperkuat organisasi sekolah dan memberikan peta jalan atau arah bagi perusahaan; (2) Menolong kita untuk bekerja sebagai teman dalam kelompok kerja, bukan sebagai musuh; (3) Mengupayakan suatu program yang akan mengusahakan bukan hanya penanganan satu aspek saja dari pendidikan, tetapi menjadi pendekatan yang holistik dan menyebabkan semua unsur sekolah mengubah cara yang mengarahkan drinya; (4) Mengarahkan para orang tua dan pelajar untuk memberikan saran untuk memajukan keadaan sekolah; dan (5) Mengarahkan dan mengendalikan pengaruh segala sesuatu yang kita lakukan dan cara kita mengendalikan

Sedangkan penerapkan manajemen mutu pendidikan di sekolah harus didukung oleh kepemimpinan mutu pendidikan, pemberdayaan guru, kelompok kerja untuk meraih mutu, alat dan teknik perbaikan mutu; serta strategi implementasi manajemen mutu pendidikan.

 

Sumber referensi:

Sukirman, Hartati, dkk. Administrasi dan Supervisi. Yogyakarta: UNY Press

Syafaruddin. 2002. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan; Konsep, Strategi, dan Aplikasi. Jakarta: PT Grasindo

http://paksisgendut.files.wordpress.com/2007/07/tugas-tqm.doc

 
2 Komentar

Posted by pada 1 Desember 2009 in Manajemen Pendidikan

 

Manajemen Supervisi Pendidikan dan Pengawasan

A. Pengertian Supervisi Pendidikan

Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya. Menurut keputusan mentri pendidikan dan kebudayaan nomor 0134/0/1977, temasuk kategori supervisor dalam pendidikan adalah kepala sekolah, penelik sekolah, dan para pengawas ditingkatkan kabupaten/kotamadya, serta staf di kantor bidang yang ada di tiap provinsi.

B. Prinsip-Prinsip Supervisi Pendidikan

  1. Prinsip-prinsip fundamenta; Pancasila merupakan dasar atau prinsip fundamental bagi setiap supervisor pendidikan Indonesia. Bahwa seorang supervisor haruslah seorang pancasilais sejati.
  2. Prinsip-prinsip praktisa;
  • Negatif: • Tidak otoriter • Tidak berasas kekuasaan • Tidak lepas dari tujuan pendidikan • Bukan mencari kesalahan • Tidak boleh terlalu cepat mengharapkan hasil
  • Positif:  • Konstruktif dan kreatif • Sumber secara kolektif bukan supervisor sendiri • Propessional • Sanggup mengembangkan potensi guru dkk • Memperhatikan kesejahteraan guru dkk • Progresif • Memperhitungkan kesanggupan supervised • Sederhana dan informal • Obyektif dan sanggup mengevaluasi diri sendiri

C. Tujuan Supervisi Pendidikan

  1. Tujuan Umum: (a) Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia dewasa yang sanggup berdiri sendiri, (b) Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia pembangunan dewasa yang berpancasila, (c) Perbaikan situasi pendidikan dan pengajaran pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar pada khususnya.
  2. Tujuan khusus: (a) Membantu guru-guru lebih memahami tujuan pendidikan yang sebenarnya, (b) Membantu guru-guru untuk dapat lebih memahami dan menolong murid, (c) Memperbesar kesnggupan guru mendidik murid untuk terjun ke msyarakat, (d) Memperbesar kesadaran guru terhadap kerja yang demokratis dan kooperatif, (e) Membesar ambisi guru untuk berkembang, (f) Membantu guru-guru untuk memanfaatkan pengalaman yang dimiliki, (g) Memperkenalkan karyawan baru kepada sekolah, (h) Melindungi guru daru tuntutan tak wajar dari masyarakat, (i) Mengembangkan professional guru.

D. Fungsi Supervisi Pendidikan

  1. Penelitian (research) → untuk memperoleh gambaran yang jelas dan objektif tentang suatu situasi pendidikan. Perumusan topik: (a) Pengumpulan data, (b) Pengolahan data, dan (c) Konlusi hasil penelitian
  2. Penilaian (evaluation) → lebih menekankan pada aspek daripada negative
  3. Perbaikan (improvement) → dapat mengatahui bagaimana situasi pendidikan/pengajaran pada umumnya dan situasi belajar mengajarnya
  4. Pembinaan → berupa bimbingan (guidance) kea rah pembinaan diri yang disupervisi

E. Teknik Supervisi Pendidikan

  1. Tekhnik kelompok: cara pelaksanaan supervisi terhadap sekelompok orang yang disupervisi
  2. Tekhnik perorangan: dilakukan terhadap individu yang memiliki masalah khusus

F. Metode Supervisi

  1. Metode langsung: alat yang digunakan mengenai sasaran supervisi
  2. Metode tak langsung: mempergunakan berbagai alat perantara (media)

G. Jenis-jenis Supervisi

  1. Observasi kelas
  2. Saling kunjung
  3. Demontrasi mengajar
  4. Supervisi klinnis
  5. Kaji tindak (action research)

H. Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran

  1. Observasi kelas: Merupakan salah satu cara paling baik memberikan supervisi pembelajaran karena dapat melihat kegiatan guru, murid dan masalah yang timbul. (a) Perencanaan Kepala sekolah merencanakan dalam menyusun program dalam satu semester atau tahunan. Program tidak terlalu kaku, tergantung dari jumlah guru yang perlu di observasi. Ada tiga macam observasi yaitu dengan pemberitahuan, tanpa pemberitahuan, dan atas undangan. (b) Mekanisme observasi: 1) Persiapan yang diperhatikan: – Guru diberi tahu kepala sekolah bahwa kepala sekolah akan mengadakan observasi – Kesepakatan kepala sekolah dan guru tolak ukur tentang apa yang dioservasi 2) Sikap observasi didalam kelas – Memberikan salam kepada guru yang mengajar – Mencari tempat duduk yang tidak mencolok – Tidak boleh menegur kesalahan guru di dalam kelas – Mencatat setiap kegiatan – Bila ada memakai alat elektronika : tape recorder, kemera – Mempersiapkan isian berupa check 3) Membicarakan hasil observasihasil yang dicatat dibicarakan dengan guru, dan beberapa hal yang diperlu dikemukankan: – Kepala sekolah mempersiapkan – Waktu percakapan – Tempat percakapan – Sikap ramah simpatik – Percakapan hendaknya tidak keluar dari data observasi – guru diberi kesempatan dialog dan mengeluarkan pendapat – Kelamahan guru hendaknya menjadi motivasi guru dalam memperbaiki kelemahan – Saran untuk perbaikan diberikan yang mudah dan praktis- kesepakatan perbaikan disepakati bersama dengan menyenangkan.d. Laporan percakapan- hasil pembicaraan didokumenkan menurut masing-masing guru yang telah diobservasi – Isi dokumen dimulai dari tanggal, tujuan data yang diperoleh, catatan diskusi, pemecahan masalah dan saran-saran
  2. Saling mengunjungi: Dalam kegiatan belajar mengajar sudah ada wadah dari kegiatan untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan pembelajaran guru-guru antara lain: (a) Untuk tingkat SMP dan SMA adalah musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), (b) Untuk tingkat Sekolah Dasar adalah Pusat kegiatan guru (PKG)
  3. Domonstrasi mengajar: Dalam kegiatan pembelajaran sangat sukar menentukan mana yang benar dalam praktek mengajar karena mengajar menurut Siswoyo (1997) sebagai seni dan filusuf. Menurut pendapat diatas mengajar dalam pekerjaan disekolah bukan pekerjaan yang mudah, sehingga kepala sekolah dalam demonstrasi pembelajaran tidak perlu mengakui kelemahan dan perlu mencarikan ahli yang dapat memberikan gambaran tentang pembelajaran yang baik
  4. Supervisi klinis: Supervisi klinis termasuk bagian dari supervisi pengajaran. Perbedaannya dengan supervisi yang lain adalah prosedur pelaksanaannya ditekankan kepada mencari sebab-sebab atau kelemahan yang terjadi dalam proses pembelajaran dan kemudian langsung diusahkan perbaikan kekurangan dan kelemahan tersebut.Pelaksanaan supervisi klinis menurut la sulo (1987), mengemukakan ciri-ciri supervisi sebagai berikut: a. Bimbingan supervisor kepada guru bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi b. Sepakatan antara guru dan supervisor tentang apa yang dikaji dan jenis keterampilan yang paling pointing (diskusi guru dengan supervisor) c. Instrument dikembangkan dan disepakati bersama antara guru dengan supervisor d. Guru melakukan persiapan dengan aspek kelemahan-kelemahan yang akan diperbaiki. Bila perlu berlatih diluar sekolah e. Pelaksanaannya seperti dalam teknik observasi kelas f. Balikan diberikan dengan segera dan bersifat obyektif g. Guru hendaknya dapat menganalisa penampilannya h. Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada memerintah atau mengarahkan i. Supervisor dan guru dalam keadaam suasanan intim dan terbuka j. Supervisor dapat digunakan untuk membentuk atau peningkatan dan perbaikan keterampil

H. Program Supervisi Pendidikan

Program supervisi pendidikan adalah rangka program berisikan pendidikan dan pengajaran.

  1. Perencanaan: adalah pemikiran dan perumusan tentang apa, bagaimana, mengapa, siapa, kapan dan dimana. Prinsip-prinsip: kooperatif, kreatif, komprehensif, flexible, kontinu.  Syarat-syarat: (a) jelas tentang tujuan pendidikan, (b)pengetahuan tentang mengajar yang baik, (c) pengetahuan tentang pengalaman belajar murid, (d) pengetahuan tentang guru-guru, (e) tilikan pengetahuan tentang murid-murid, (f) pengaetahuan tentang masyarakat, (g) pengetahuan tentang sumber-sumber fisik, (h) faktor biaya, (i)faktor waktu. Proses: merumuskan what, why, how, who, when, where
  2. Organisasi program: Pola-pola :→ horizontal→ vertical. Langkah-langkah mengorganisir program: • persiapakan suasana • pertimbangan situasi • penyusunan program • pembagian
 
2 Komentar

Posted by pada 1 Desember 2009 in Manajemen Pendidikan

 

Manajemen Supervisi Pendidikan dan Pengawasan

A. Pengertian Supervisi Pendidikan

Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya. Menurut keputusan mentri pendidikan dan kebudayaan nomor 0134/0/1977, temasuk kategori supervisor dalam pendidikan adalah kepala sekolah, penelik sekolah, dan para pengawas ditingkatkan kabupaten/kotamadya, serta staf di kantor bidang yang ada di tiap provinsi.

 

B. Prinsip-prinsip Supervisi Pendidikan

  1. Prinsip-prinsip fundamental; Pancasila merupakan dasar atau prinsip fundamental bagi setiap supervisor pendidikan Indonesia. Bahwa seorang supervisor haruslah seorang pancasilais sejati.
  2. Prinsip-prinsip praktisa; (a) Negatif: Tidak otoriter, Tidak berasas kekuasaan, Tidak lepas dari tujuan pendidikan, Bukan mencari kesalahan, Tidak boleh terlalu cepat mengharapkan hasil, dan (b) Positif: Konstruktif dan kreatif, Sumber secara kolektif bukan supervisor sendiri, Propessiona, Sanggup mengembangkan potensi guru dkk, Memperhatikan kesejahteraan guru dkk, Progresif, Memperhitungkan kesanggupan supervised, Sederhana dan informal, Obyektif dan sanggup mengevaluasi diri sendiri

 

C. Tujuan Supervisi Pendidikan

1. Tujuan Umum

  • Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia dewasa yang sanggup berdiri sendiri
  • Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia pembangunan dewasa yang berpancasila
  • Perbaikan situasi pendidikan dan pengajaran pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar pada khususnya

2. Tujuan khusus

  • Membantu guru-guru lebih memahami tujuan pendidikan yang sebenarnya
  • Membantu guru-guru untuk dapat lebih memahami dan menolong murid
  • Memperbesar kesnggupan guru mendidik murid untuk terjun ke msyarakat
  • Memperbesar kesadaran guru terhadap kerja yang demokratis dan kooperatif
  • Membesar ambisi guru untuk berkembang
  • Membantu guru-guru untuk memanfaatkan pengalaman yang dimiliki
  • Memperkenalkan karyawan baru kepada sekolah
  • Melindungi guru daru tuntutan tak wajar dari masyarakat
  • Mengembangkan professional guru

 

D. Fungsi Supervisi Pendidikan

  1. Penelitian (research) → untuk memperoleh gambaran yang jelas dan objektif tentang suatu situasi pendidikan; Perumusan topik: (a) Pengumpulan data, (b) Pengolahan data, dan (c) Konlusi hasil penelitian
  2. Penilaian (evaluation) → lebih menekankan pada aspek daripada negative
  3. Perbaikan (improvement) → dapat mengatahui bagaimana situasi pendidikan/pengajaran pada umumnya dan situasi belajar mengajarnya
  4. Pembinaan → berupa bimbingan (guidance) kea rah pembinaan diri yang disupervisi

 

E. Teknik Supervisi Pendidikan

  1. Tekhnik kelompok: cara pelaksanaan supervisi terhadap sekelompok orang yang disupervisi
  2. Tekhnik perorangan: dilakukan terhadap individu yang memiliki masalah khusus

 

F. Metode Supervisi

  1. Metode langsung: alat yang digunakan mengenai sasaran supervisi
  2. Metode tak langsung: mempergunakan berbagai alat perantara (media)

 

G. Jenis-jenis Supervisi

Beberapa jenis supervisi antara lain:

  1. Observasi kelas
  2. Saling kunjung
  3. Demontrasi mengajar
  4. Supervisi klinnis
  5. Kaji tindak (action research)

 

H. Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran

1.  Observasi kelas

Observasi kelas merupakan salah satu cara paling baik memberikan supervisi pembelajaran Karen dapat melihat kegiatan guru, murid dan masalah yang timbul.

a. Perencanaan

Kepala sekolah merencanakan dalam menyusun program dalam satu semester atau tahunan. Program tidak terlalu kaku, tergantung dari jumlah guru yang perlu di observasi. Ada tiga macam observasi yaitu dengan pemberitahuan, tanpa pemberitahuan, dan atas undangan.

b. Mekanisme observasi

1) Persiapan yang diperhatikan:

- Guru diberi tahu kepala sekolah bahwa kepala sekolah akan mengadakan observasi

- Kesepakatan kepala sekolah dan guru tolak ukur tentang apa yang dioservasi

2) Sikap observasi didalam kelas

- Memberikan salam kepada guru yang mengajar

- Mencari tempat duduk yang tidak mencolok

- Tidak boleh menegur kesalahan guru di dalam kelas

- Mencatat setiap kegiatan

- Bila ada memakai alat elektronika : tape recorder, kemera

- Mempersiapkan isian berupa check

3) Membicarakan hasil observasihasil yang dicatat dibicarakan dengan guru, dan beberapa hal yang diperlu dikemukankan:

- Kepala sekolah mempersiapkan

- Waktu percakapan

- Tempat percakapan

- Sikap ramah simpatik

- Percakapan hendaknya tidak keluar dari data observasi – guru diberi kesempatan dialog dan mengeluarkan pendapat

- Kelamahan guru hendaknya menjadi motivasi guru dalam memperbaiki kelemahan

- Saran untuk perbaikan diberikan yang mudah dan praktis- kesepakatan perbaikan disepakati bersama dengan menyenangkan.d. Laporan percakapan- hasil pembicaraan didokumenkan menurut masing-masing guru yang telah diobservasi

- Isi dokumen dimulai dari tanggal, tujuan data yang diperoleh, catatan diskusi, pemecahan masalah dan saran-saran

2.  Saling mengunjungi

Dalam kegiatan belajar mengajar sudah ada wadah dari kegiatan untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan pembelajaran guru-guru antara lain:

a.  Untuk tingkat SMP dan SMA adalah musyawarah guru mata pelajaran (MGMP)

b.  Untuk tingkat Sekolah Dasar adalah Pusat kegiatan guru (PKG)

3.  Domonstrasi mengajar

Dalam kegiatan pembelajaran sangat sukar menentukan mana yang benar dalam praktek mengajar karena mengajar menurut Siswoyo (1997) sebagai seni dan filusuf. Menurut pendapat diatas mengajar dalam pekerjaan disekolah bukan pekerjaan yang mudah, sehingga kepala sekolah dalam demonstrasi pembelajaran tidak perlu mengakui kelemahan dan perlu mencarikan ahli yang dapat memberikan gambaran tentang pembelajaran yang baik

4.  Supervisi klinis

Supervisi klinis termasuk bagian dari supervisi pengajaran. Perbedaannya dengan supervisi yang lain adalah prosedur pelaksanaannya ditekankan kepada mencari sebab-sebab atau kelemahan yang terjadi dalam proses pembelajaran dan kemudian langsung diusahkan perbaikan kekurangan dan kelemahan tersebut.Pelaksanaan supervisi klinis menurut la sulo (1987), mengemukakan ciri-ciri supervisi sebagai berikut:

a.  Bimbingan supervisor kepada guru bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi

b.  Sepakatan antara guru dan supervisor tentang apa yang dikaji dan jenis keterampilan yang paling pointing (diskusi guru dengan supervisor)

c.  Instrument dikembangkan dan disepakati bersama antara guru dengan supervisor

d.  Guru melakukan persiapan dengan aspek kelemahan-kelemahan yang akan diperbaiki. Bila perlu berlatih diluar sekolah

e.  Pelaksanaannya seperti dalam teknik observasi kelas

f.  Balikan diberikan dengan segera dan bersifat obyektif

g.  Guru hendaknya dapat menganalisa penampilannya

h.  Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada memerintah atau mengarahkan

i.  Supervisor dan guru dalam keadaam suasanan intim dan terbuka

j.  Supervisor dapat digunakan untuk membentuk atau peningkatan dan perbaikan keterampil

 

H. Program Supervisi Pendidikan

Program supervisi pendidikan adalah rangka program berisikan  pendidikan dan pengajaran.

1. Perencanaan adalah pemikiran dan perumusan tentang apa, bagaimana1, mengapa, siapa, kapan dan dimana.

Prinsip-prinsip: kooperatif, kreatif, komprehensif, flexible, kontinu

Syarat-syarat:

  1. jelas tentang tujuan pendidikan
  2. pengetahuan tentang mengajar yang baik
  3. pengetahuan tentang pengalaman belajar murid
  4. pengetahuan tentang guru-guru
  5. tilikan pengetahuan tentang murid-murid
  6. pengaetahuan tentang masyarakat
  7. pengetahuan tentang sumber-sumber fisik
  8. factor biaya
  9. factor waktu

Proses: merumuskan what, why, how, who, when, where

2. Organisasi program

a. Pola-pola :→ horizontal→ vertical

b. Langkah-langkah mengorganisir program:

  • persiapakan suasana
  • pertimbangan situasi
  • penyusunan program
  • pembagian
 
2 Komentar

Posted by pada 26 November 2009 in Manajemen Pendidikan

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.