RSS

Pesawat Pertamaku ke Tenggarong…

31 Jan

Hari itu, 29 Desember 2010. Ku awali hari dengan penuh semangat meskipun tetap dengan rasa was-was dan khawatir. Hari ini adalah perjalanan pertama ku ke Tenggarong, Kutai Kartanegara. Kota kecil di Kalimantan Timur yang orang bilang adalah Kota Wisata dan Kota Penghasil Batu Bara Terbesar.

Pukul 06.00 WIB. Ku langkahkan kali keluar dari rumah tercinta yang pasti sangat ku rindukan. Dengan mengendarai sepeda motor, ku diantar ibu dan adik tersayang ke Bandara Internasional Adi Sucipto, Yogyakarta. Motor ku pacu dengan cepatnya, berharap tak kan terlambat sampai di bandara. Namun ternyata, tetap saja ku terlambat. Tak sesuai dengan janjiku bersama kawan-kawanku, pukul 06.30 WIB. Namun ternyata seorang temanku pun, lebih terlambat dari ku. Alhasil, kita semua terlambat check in dan terlambat masuk ke pesawat.

Memang benar, “terburu-buru itu datangnya dari syetan”. Ketika itu pun kami semua terburu-buru. Serasa waktu mengejar kami semua hingga tak ada waktu untuk berdiskusi sedikit pun, bahkan menemui seorang teman yang sudah meluangkan waktu datang ke bandara dengan harapan bisa bertemu dengan ku (maafkan aku saudari2ku, kalian selalu di hatiku). Karna terburu-buru itulah, aku harus membayar Rp. 280.000,00 (uang yang tidak sedikit buat ku). Tapi, semua ada hikmahnya…

Setelah melewati 1,5 jam di atas awan, akhirnya sampai juga aku di Bandara Sapinggan, Balik Papan. Berjubel antri mengambil barang dari bagasi, sendirian bersusah payah mendorong troly, hingga akhirnya bertemu Pak Mulyadi, seorang sopir travel yang baik hati. Aku pun bersama dengan Beliau segera meluncur ke Tenggarong, tempat yang ingin segera ku lihat yang memang menjadi tujuan kedatanganku ke Kaltim ini.

Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh selama 3 jam, kami tempuh selama + 4 jam lamanya. Bercerita tentang kehidupan, Tenggarong, hingga wejangan-wejangan yang berarti ia berikan padaku. Banyak hal yang bisa ku dapat dari Seorang Mulyadi yang dahulunya ternyata seorang pemilik perusahaan batu bara di kota ini. Namun karena tertipu oleh temannya sendiri, akhirnya seorang lulusan pesantren ini pun terjatuh. Usaha yang telah digeluti selama 9 tahun, bangkrut! Dan karna itulah, aku bisa bertemu Beliau. Selalu ada hikmah balik setiap kejadian…

Melewati Bukit Soeharto, melihat Museum dan Masjid Agung Kutai Kartanegara, berjalan di sepanjang Sungai Mahakam. Sungguh luar biasa. Hal pertama yang ku pikirkan ketika sampai di kota ini adalah “sepertinya tak jauh berbeda dengan Jogja”.

SMK Negeri 1 Tenggarong. Akhirnya aku sampai di sini. Pukul 15.45 WITA. Segera aku menghubungi Bapak Sunarno, Kepala SMK ini, yang telah menunggu kedatangan ku sedari tadi bersama Bapak Abdul, Kaprodi Administrasi Perkantoran yang dipanggil Bapak Ustadz oleh Pak Narno. Perlahan ku berjalan mendekati pintu ruang guru dan mengucapkan salam. Segera salam itu pun disambut dan aku dipersilahkan masuk. Selanjutnya, kami pun sedikit berbincang, tentu setelah Beliau bertiga (Pak Narno, Pak Abdul, Pak Mul) Sholat Asar. Memang tak banyak yang kami bicarakan.

Dalam perbincangan itu pun aku diperkenalkan dengan seorang guru BP yang ku panggil dia mbak. Mbak Melinda namanya. Ternyata perantau dari Jogja juga, Maguwoharjo tepatnya (dunia memang sempit ya). Di sini ia bersama suaminya, pindah sejak September 2010 dan bekerja di sekolah ini Bulan Oktober 2010. Selanjutnya, Beliau memberikan kesempatan untukku beristirahat terlebih dahulu. Meskipun ternyata aku belum tinggal di tempat yang telah Beliau janjikan yaitu di rumah salah seorang guru yang namanya Bu Ema (kalau tidak salah, berarti benar,he…), tetapi Beliau mencarikan ku tempat tinggal sementara, di Penginapan Andira.

Sepanjang perjalanan menuju penginapan pun tak ku siakan begitu saja. Segera ku hubungi Mb. Yayuk yang telah ku kenal sebelumnya. Mengabarkan bahwa aku telah sampai di Tenggarong dan menanyakan tempat tinggalnya serta membicarakan beberapa hal lainnya tentu.

Satu kata yang kembali ku ucapkan. Seperti ketika aku ditanya mengenai Tenggarong oleh De’Basier, juga salah seorang yang pernah ku hubungi di sini. Luar Biasa! Ya. Luar Biasa! Semuanya luar biasa. Mulai dari perjalanan ku ke tempat ini hingga akhirnya ku temukan banyak teman dan sodara di sini.

Telah ku buktikan apa yang pernah ku ungkapkan sebelumnya “Bumi Allah begitu luas… Di mana pun kita berada, tak perlu kawatir…Ada Dia yg senantiasa mengawasi&menemani setiap langkah kaki ini… Ada orang2 yg baik dan mungkin begitu baik,yg bisa kita temui&membantu… Bahkan terkadang,hingga kita merasa tak enak sendiri ;-)”

Perjalanan panjang nan penuh kejutan baru akan dimulai kembali. Sekaranglah waktunya… 4 (empat) bulan di perantauan bukanlah waktu yang lama jika ku nikmati dan digunakan sebaiknya. Sekarang saatnya ku up-grade diri untuk lebih baik. Meningkatkan segala potensi positif yang telah Allah berikan pada diri ini. Tak sekedar menjalankan tugas! Belajar mandiri. Belajar berinteraksi dengan banyak orang yang beragam. Belajar memahami. Belajar membaca situasi dan kondisi sekitar. Belajar ber-“juang” di tempat lain yang sepertinya butuh lebih tenaga dan pikiran. Belajar, belajar, dan belajar. Setiap apa yang ada di depan ku harus bisa ku ambil sebagai bahan pelajaran. Keep Spirit!

Sudut kamar sebuah penginapan di Tenggarong 30 Januari 2011_08.03 WITA

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Januari 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: